Thursday, October 30, 2008

Sajak-sajak

Debur buta membatu

Ketika aku buka catatanku
Angin laut malam meloncat riang
Mengikuti gelombang
Bergerak mengusap kulitmu dan kening manismu
Kilau lampu temaram memercik mencari wajahmu
Melempar senyum dan tawa
Diantara alunan gembira
Malam yang selalu setia
Mengisi semua bait-bait dan cerita
Suaramu…

Kau menghadirkan suara ombak
Seperti sebuah dansa dan flamenco
Malam bagai tarian kecak, ribut berarak
Kau perlahan menutup cakrawala membawa bintang bintang
Dan butiran pasir dan debur laut
Yang hinggap tak terduga
Di mukaku dan lembar-lembar catatanku

Ketika aku buka catatanku
Debur ombak Jimbaran, hempas angin Kuta
buta membatu
lidah gelombang menghisap noda merah
dan logam seperti mesiu
sejenak gelap turun mengiringi dentuman
dan keramaian yang berserak
duka menelan semuanya, seperti jarak
seperti kedalaman laut, seperti batasnya waktu.
Suaramu ditelan debur ombak di udara
berserakan

Tak tau siapa yang memulai semua ini
Padamu semuanya tenggelam.
Melipat malam, menghalau bintang, membekap debur ombak
Membekukan desir angin laut
Membawamu pergi

debur ombak melilit tepi-tepi meja dan kursi
membawa pergi bekas-bekas dukanya
ke lautan lepas
tanpa batas
berharap tak kan kembali, seperti waktu

aku tetap berjalan,
seperti waktu
tetap mengingat pada malam itu
pada sebuah catatan
di tepi pantaimu
dan malam yang berubah

Oktober 2005
Kaum Muda di Gedung Tua

Di pelataran gedung tua
Angin malam lewat gempita
Di depan jalan raya ramai seperti biasa
Pada tepian-tepian orang mengais ngais kemana-mana
Suara lantang dari sorot yang redup di gedung parlemen
Sibuk berebut kata-kata untuk tahta
Televisi malam sibuk dengan cerita merengek-rengek
Dan nyanyi ngak ngek ngok
Di hamparan pelataran lebar pekan raya jakarta
Sang presiden sibuk meluncurkan album nyanyi ngak ngik ngoknya
Dalam sorot lampu dan kamera yang ramai

Di pelataran gedung tua
Langit tampak bintang menyala
Menjadi matahari kecil malam
Menembus jiwa-jiwa dengan tangan mengepal
Kaum muda yang benderangi malam dengan obor
Meniti jalan yang serabutan gurita pekat hitam
Menyuarakan gelora diantara bunyi yang memekakkan
Mengucapkan kata demi kata ikrar kaum muda
Jadi pandu baru masa yang baru
Meretas jalan yang tak pernah dilalui
Menembus lautan yang tak pernah dilayari
Melangkahkan jejak pada titian yang tak pernah dilewati

Dari pelataran gedung tua itu
Kita berjanji
Membawa panji-panji memimpin ibu pertiwi
Dan melupakan ngak ngek ngok di televisi
Atau sinetron yang merengek-rengek setengah mati
Mengubur keluh kesah dan desing kata mengiris menyerah
Melupakan sesal sejarah
Dengan matahari dalam genggaman kanan
Dengan debur ombak dalam genggaman kiri
Kita melangkah

Di pelataran gedung tua itu
Kaum muda berkata dengan kepal di udara
Saatnya kaum muda memimpin


Bogor, 28 Oktober 2007

Thursday, August 7, 2008

Pelabuhan


Lalu lalang waktu, tali merentang sauh bertambat
Berhenti dan pergi bagai ombak kesana dan kemari
Lampu-lampu dari matahari malam
Bergegas berebut setum kapal
Dan perahu yang tinggal
Di sini yang tercipta adalah kenangan dan harapan

Badai datang di lautan yang jauh
Singgah juga selemparan sauh
Meredam gelisah pengembaraan
Berharap lampu-lampu pelabuhan
Jauh sudah kau berjalan
Mencari tepian persinggahan
Bukan pada tubir laut dalam
Pada hati bertanya diam diam

Pelabuhan ada dimana saja
Persinggahan dalam hati pelabuhan sejati jua


Okt 31, 2005

Saturday, September 29, 2007

Sebuah Travelogue: Afrika, Kunjani....



Oleh
Dwi R. Muhtaman

Perjalanan ke Afrika bagi sedikit orang seperti sebuah napak tilas sejarah. Kita serta merta melewati kembali jejak tiga empat abad yang lalu, abad ke-17. Aku merasakan angin musim gugur bulan April berkata/Kau merdeka hari ini karena tiga abad lalu/Syeh Yusuf telah membabat hutan rotan dan menyibakkan ilalang berduri/untukmu….Ada ceceran darah, bertabur, kering, dan basah. Begitulah lukisan Taufiq Ismail tentang Afrika Selatan.

Ketika itulah deru angin barat menghantam tujuh layar kapal-kapal Vereenigde Oost-Indische Compagnie, VOC yang sombong, yang ludahnya ada di mana-mana. Di kapal itulah berderet peti-peti tulang belulang para pemberani—Ditakuti ketika memimpin pertempuran/.. /Ditakuti ketika sudah jadi tulang-belulang/.. Ya, Syeh Yusuf turun di benua selatan itu yang datang dari nusantara melewati 10 ribu kilometer melintasi dua samudra. Itulah pertautan berabad-abad lampau antara kita dan Afrika Selatan, saudara sependeritaan. Bahkan di Afrika Selatan pertautan kita sebagai manusia berujung jauh jutaan tahun yang lalu. Di situlah, tepatnya di Propinsi Gauteng, di hamparan bergelombang yang membentang seluas 47.000 hektar, terdapat sisa-sisa arkeologi yang menunjukkan perkembangan paling awal nenek dan kakek moyang keluarga manusia. Situs the Cradle of Humankind (asal manusia) yang kemudian dideklarasikan oleh UNESCO sebagai the World Heritage Site pada 1999. “We are all Africans under the skin,” kata anthropolog Christopher Stringer.

Stringer mempunyai alasan yang kuat mengapa ia memulai menulis bukunya the Evolution of Racism dari Afrika. Demikian juga PBB yang menggelar Konferensi Anti-Rasisme beberapa bulan yang lalu di Durban, Afrika Selatan. Perjalanan ke Afrika seperti membaca sejarah yang muram anak semua bangsa ketika warna kulit menjadi batas antara kesejahteraan dan penderitaan, antara menjadi manusia dan lainnya. Dan sampai pada penderitaan yang memuncak. Dan meledak. Barangkali itulah sebabnya Malcolm X bertanya-tanya kenapa sebutan “hitam” selalu dikonotasikan dengan “keburukan.” Sebutlah sesuatu apapun lalu sandingkan dengan hitam, maka ia bermakna “buruk.” Malcolm X dengan gagah berani menolak penyesatan hitam itu. Demikian juga dengan Nelson Mandela yang berjuang gigih untuk membebaskan negeri dan rakyatnya dari cengkeraman penjahat kemanusiaan. Dan ia berhasil. Kita seperti menemukan kembali berlian kasar dari dalam lumpur. Meski masih perlu jalan yang panjang untuk menggosok berlian itu untuk bisa dinikmati. Jalan sudah dibuka.

Dalam hujaman sejarah seperti itulah warga dunia mengunjungi Rio de Janeiro dari Johannesburg—dan berharap menemukan kemilau berlian bagi dunia yang lebih baik. Dan kita tahu, baru saja puluhan ribu orang berkerumun di Johannesburg yang membentang, Afrika Selatan. Mereka katanya mencoba meneguhkan komitmen Rio sepuluh tahun yg lalu dalam sebuah politik yang rumit yang disebut sebagai the World Summit on Sustainable Development (WSSD). WSSD kali ini melibatkan tujuh tematik pleno partnership, pernyataan-pernyataan dari kalangan non-pemerintah, sambutan para kepala negara dan pemerintahan dan pejabat senior, empat diskusi meja bundar tingkat tinggi tentang tema “Making It Happen,” dan event-event multistakehodlers.

Dengan berbagai dinamikanya—termasuk puluhan ribu warga madani yang mengadakan demonstrasi solidaritas, dan tindakan kasar para serdadu lokal, WSSD menegosiasikan dan mengadopsi dua dokumen penting: the Plan of Implementation (PoI) dan the Johannesburg Declaration on Sustainable Development. Dunia—tepatnya para elit pemerintahan—gagal menyepakati beberapa isu penting, dan itu sungguh menjengkelkan. Isu yang penuh dengan ketidaksepakatan misalnya berkaitan dengan target waktu untuk isu sanitasi, enerji yang terbarukan, subsidi enerji, kimia dan kesehatan, degradasi sumberdaya alam, hilangnya keanekaragaman hayati dan stok ikan; Prinsip ke-7 Rio (common but differentiated responsibility) dan ke-15 (precautionary approach); governance; perdagangan, keuangan dan globalisasi; Protokol Kyoto; dan kesehatan dan hak asasi manusia.

PoI ini didesain sebagai kerangkakerja aksi untuk melaksanakan komitmen-komitmen yang telah disetujui pada UN Conference on Environment and Development (UNCED) yang dideklarasikan pada 1992 di Rio de Janeiro dengan suka cita dan mimpi yang panjang. Sementara itu Deklarasi Johannesburg menggambarkan dari perjalanan Rio ke WSSD, menyoroti tantangan-tantangan saat ini, mengekspresikan komitmen untuk pembangunan yang lestari, dan mencatat pentingnya multilateralism dan menekankan kebutuhan untuk melaksanakan itu semua. Selebihnya, kita menyaksikan sebuah pesta yang usai tapi belumlah selesai, dan aku dengar Salif Keita menyanyikan lagu Afrika dengan beat Afrika yang lincah dan penuh improvisasi, gembira. Ia menghentakku: besok masih ada sorot matahari yang baru, angin savana yang lebih segar dan hyena lebih kencang berlari….menyongsong masa depan dari segala penjuru, dari segala kemungkinan.

Saya hanya sebuah butir pasir dalam kerumunan memasir itu. Dalam sebuah Kota Sandton yang rapi, mewah, sedikit sombong dalam kitaran pemukiman kumuh kaum hitam peninggalan Aparteid yang tak terlupakan, pesta Joburg itu di mulai--dan diakhiri dengan kegamangan: Beginikah kita melangkah? Meninggalkan bumi macam apakah kita pada generasi nanti?

Rombongan "sirkus" yang menyertai para delegasi pemerintahan (termasuk rombongan sirkusnya Megawati yang mencapai sekitar 100an orang) tengah bersiap menampilkan pertunjukkannya yang terbaik. Semua kata-kata disusun begitu rapi seperti seorang arsitektur membangun Istana Pasir. Sempurna. Cantik. Indah. Tapi sebetulnya sangat rentan terjangan bibir-bibir ombak. Para pemimpin yg berbicara di konvensi itu semua berkomitmen dan memprihatinkan bumi yang cuma satu ini. Tapi ya itulah. Kelakuan tetap saja tidak berubah.

Presiden Megawati berbicara soal pengentasan kemiskinan, sementara kemiskinan di negeri sendiri tidak diselesaikan dengan baik. Ia berbicara soal keperintahan yang baik (good governance) sementara di negerinya sendiri korupsi tidak mampu diatasi. Ia berpidato soal pelestarian lingkungan, sementara di negerinya sendiri ia tidak mampu menyelesaikan persoalan lingkungan. Dan ia mungkin tidak sendirian. Merekalah yang menjadi elite bumi, yang mengaku akan menyelamatkan bumi. Sementara puluhan ribu dan jutaan lain yang tidak menjadi bagian pesta sepuluhan tahun itu, mengerang. Sakit, tercampakkan. Menanti daun terakhir jatuh. Memandang hampa tetes air terakhir tersangkut di ozon yang menganga.

Coba saja bayangkan. Sejak tahun 1992, itu sejak hari Bumi di Rio De Janeiro, bumi kehilangan 160 juta hektar hutan global. Itu berarti setiap tahun kita kehilangan 16 juta ha global. Indonesia sendiri kehilangan 1.6 setiap tahun. Itulah para pemimpin kita, dan mungkin juga kita sendiri... Dan itu terjadi setelah para pemimpin ramai-ramai menandatangani berbagai komitmen penyelamatan bumi. Termasuk juga setelah makin banyak LSM yang berteriak dan menjadi besar.

Apakah yang tersisa? Ya, masyarakat sipil senantiasa bertarung: kita, rakyat, harus membuat sesuatu yang merubah banyak hal menjadi berbeda dan lebih baik. Namun sayangnya, kalangan masyarakat sipil terjebak pada taktik yang sama ketika ada lingkungan-lingkungan yang berubah. Atau dalam bahasa Andrew Goldstein (Time Edisi September 2, 2002) “kelompok lingkungan nampak tengah memerangi medan perang yang salah.” Ia mengkritik bahwa kelompok lingkungan kadang cenderung menghancurkan kelompok yang berpotensi untuk berinovasi dalam menciptakan produk ramah lingkungan—kalangan swasta. Alih-alih memberi rewards pada swasta yang berniat baik, mereka malah memberi disinsentif. Ini tantangan yang serius. Komunitas masyarakat sipil, termasuk LSM, nampak kehilangan daya inovasinya dalam taktik dan strategi. They seem to be fighting a losing battle.

Apa arti Afrika bagi kita selain peristiwa WSSD yang baru saja sudah. Pelajaran terbaik yang masih saya kagumi dari Afrika Selatan adalah tutur kata dari seorang gadis manis, zulu: Thami Nomathamsanga Khumalo. Ia duduk di sampingku di atas bis bertingkat yang berangkat dari Ubuntu Village, tempat satu konvensi/pameran. Kami menuju ke tempat konvensi lainnya, sekitar satu jam perjalanan bis. Diantara berbagai dialog, satu hal yang aku tanya: "Apa pandanganmu terhadap berakhirnya pemerintahan apartheid?" Ia dengan tegas dan berapi-api menjawab:"Kami tahu jaman itu amat menyakitkan bagi kami. Paman dan keluarga-keluargaku, kawan keluargaku dan tetangga keluargaku banyak yang mati dan amat menderita karena itu.”

Bis yang kami tumpangi terus melaju melewati the real downtown Joburg yang bergemuruh. Toko-toko sepanjang jalan dengan teralis besi seperti penjara. Ada aroma yang mencemaskan. Ia sangat kontras dengan Sandton. Barangkali memang masih dibutuhkan beberapa dekade untuk menghilangkan teralis: teralis fisik, sosial, dan psikologis. Thami terus melanjutkan, “Tapi kami tahu itu adalah masa lalu, sebuah sejarah yang tidak mungkin lagi dihadirkan dan dilalui lagi. Kami ingin hidup dengan normal, hidup penuh kedamaian, dengan siapapun. Kami tidak mau penderitaan kami berulang dengan mengusir orang-orang putih, atau menganiaya mereka seperti mereka menganiaya kami. Kami tidak mau melakukan balas dendam, kami tidak mau melakukan itu. Kami ingin bermain bersama mereka, pergi ke restoran dengan mereka, pergi ke sekolah yang sama, restoran yang sama, jalan yang sama, naik bis yang sama. Itulah yang kami lakukan."

Argumen itu berasal dari gadis manis, di sampingku. Thami namanya. Ia berasal dari etnis zulu dengan cara tutur dan pronoun kata yang unik. Ia bicara sambil mengucah permen dengan lidah dalamnya yang ditindih (piercing). Ia mungkin sekitar 18-20 tahun, tidak mampu melanjutkan sekolah karena tidak ada biaya. Ia menjadi voluntir pada Earth Summit ini dan menjadi guide para tamu. Ia mendapatkan kehormatan untuk ikut menjadi guide tamu-tamu penting ke Soweto, kampung halaman Mandela. Saya tidak sedang diguide dia. Cuma kebetulan duduk di sampingnya. Ia mau pulang. Hari sudah sore. Afrika Selatan sebentar lagi dalam dentuman malam yang dingin. Dan Thami mungkin hendak menyanyikan sebuah lagu...Soweto...dirimu menjadi saksi, manusia adalah sesuatu yang luar biasa...

Tidak sepenuhnya "aparteid" hilang memang. Paling tidak aparteid sosial sebagai bentukan kumulatif jaman itu, masih bisa kita saksikan di sudut-sudut daerah Alexandria (yg tidak jauh dari Sandton), atau--bahkan--di tengah kota Joburg. Sementara di Kota Sandton, tempat Summit digelar, dengan jelas kita saksikan hidup yang mewah, gagah dan klimis bak para eksekutif normal.

Apapun kata hatinya, Thami masih bangga, bersemangat dan optimis menjadi warga Afrika Selatan--sesuatu yang bagi kita di Indonesia saat ini, terasa begitu luks. Hamparan beragam sengketa bagai pedih yang menusuk-nusuk. Lautan kemiskinan—kemiskinan pangan, kemiskinan rasa hormat dan saling percaya, kemiskinan harapandan kedamaian—membentuk gelombang dan siap menjadi ombak yang menyeret kita ke tepian yang makin tidak menentu. Kita kehilangan sejarah, dan sesungging senyum. Suara Thami adalah suara Afrika Selatan, sebuah negara yang berhasil melakukan transformasi masif dalam waktu yang relatif singkat.

Saya tidak tahu pemimpin dan orang macam apa yang dibutuhkan untuk sebuah dunia dan bumi yang sustainable......Mungkin kita memerlukan sosok ini sekaligus: Muhammad, Mandela, Einstein, Gandhi, Gibran, Tagore, Descartes, Hatta, Neruda, Picasso, dan sepotong nasib baik.

Mungkinkah kita, pada akhirnya, memang akan kalah? Dari Afrika kita berharap (lagi) dengan rasa optimis seperti yang diteriakkan oleh Ben Okri, novelis dan penyair Nigeria: We are the miracles that God made/To taste the bitter fruit of Time.

Afrika, kunjani. Afrika, apa kabarmu.



Joburg-Los Banos-Bogor, September 2002

Satumeter Persegi Yang Kita Bawa

Aku tahu begitu luas tanahtanah belantara itu, sembunyi dalam setitik
Lalu kau tersengalsengal menjelajahi, merebut dan menebas tiada henti
Menarinari nanar ke sana ke mari, tiada do’a atau mantramantri
Kau terjungkaljungkal menjejakkan kaki menegakkan hati di seluruh negeri
Aku tahu tarian nanar berjungkaljungkal itu seperti pesta untuk sebuah kota

Tinggalkan tanahtanah dan belantara sepi sendiri sudah
Tuntas dari hirukpikuk belantara
Pohon-pohon tumbang dan mengalir oleh tarikan napas sebuah kota
Dan kau tersenyum sambil menarinari
Binatang-binatang hanya memandang bintang, kapan hujan datang, kapan banjir datang
Aku tahu kapanpun maut menjemput

Dan aku juga tahu begitu luas tanahtanah dan belantara
Cuma satu meter persegi saja
Kita bawa menjemput 99 titik lainnya



2001

Terusir Ombak

Ia bangun tiap pagi
Matahari menyelinap di sekujur rumah bambunya
--dengan jagung kering menggantung di tepi atapnya
dari jendela dan nganga lubang-lubang
dari atas bukit
ia berharap hidup yang terjangkau

sementara di depannya laut laut menggelepar
mimpinya terhenti dan bergeletakan di sepanjang pantai
tak tahu dari rumahnya ia bisa terpojok nanti
karena harga yang aneh
terus menggodanya
pergi dari sini

debur ombak terdengar
mengusirnya lalu


Bunutan, 26 April 2003
Pulau, Layar Terkoyak


Melintas pulau dalam gelombang memanjang
Kau tak bergeming untuk segera pulang manawankan tawaran senja
Jatuh pada gemerlap laut pasir menghijau
Tak tau dimana mesti menunggu jika ada sisa waktu
Memandang bintang-bintang yang tergeletak pada bibir pantai sambil tersenyum
Memandangmu di pojok pada ujung perahu yang tak lagi memuat apa-apa
Anginpun tergolek pada daun nyiur dan turun ke jalanan kampung yang makin sepi
Terbungkus di tepian kota yang jauh dan tak lagi sudi bergumul dengan amis dan asin laut kepulauan

Begitu padamnya kerinduan untuk kembali
Seperti semuanya tiba-tiba terasa sunyi dan tifa dan debur ombak dan nyanyian
Bukan panggilan yang berarti lagi
Namun bintang tetap berkerumun di atas tanah pulau itu dan turun ke pantai
Menemani yang masih setia dalam gemuruh ombak dan angin laut
Kini bukan lagi dulu
Kejauhan adalah kucur darah yang menyakitkan
Kedekatan adalah sebuah perhitungan yang mahal
Semuanya menjadi harga
Dan aku menjualmu dengan harga yang aku mau dan kau setuju
Melintas pulau melintas pasar
Daun-daun berjatuhan, pasar berterbangan, ikan-ikan menggelepar dan bulan karam
Tanah-tanah pulau itu seperti dendam
Menunggu apalagi kalau bukan batu dari seberang
dan merubahnya menjadi beton dengan segala gemerlap yang menyertainya.

Dan kau di mana waktu itu
Diam saja
Tanpa gelombang dan kicauan
Pagi yang hilang, hari yang terlempar di pasar yang kau ributkan
Membawamu pada padang lamun di dasar lautan
Membangun istana yang tak kau huni sepenuh hati
Betapa tanah itu seperti perahumu yang dimain-mainkan ombak
Dan kau gagal mendapatkan ikan dalam jaringmu
Hanya menemukan layar yang terkoyak
Oleh angin dan badai

Selamat malam sayang
Esok dari balik jendela yang kau buka
Mungkin masih ada matahari yang melintasi
Tanahmu dan laut mimpimu


Kepulauan Padaido, Biak, April 2003